Rona jingga mengantar Penyengat ke ujung senja. Malam menyapa bersama lirih suara ombak.
Kumandang adzan masjid Sultan mengingatkan saatnya untuk bersimpuh sejenak di hadapanNya , mengabarkan kisahku hari ini sekaligus mensyukuri nikmatNya.
“Tuhan bolehkah saya menumpang di rumahMu, seperti malam-malam sebelumnya ketika di jalanan.”
Tuhan memang tak pernah berkata langsung tapi selalu ada pertanda sebagai jawabnya. Nampaknya saya harus mengurungkan niat untuk “ngemper” di masjid. Ini rumah Allah dan siapa saja bisa singgah dan tinggal di sini. Tapi bagaimana jika menggangu umat lain yang ingin beribadah karena terlalu banyak orang menginap di sini.
“Menginapnya tak masalah tapi jemur-jemuran bajunya itu.” Curhat Pak Samsul pengurus masjid sekaligus penginapan Sultan.
Akhirnya ide membangun penginapan diwujudkan tahun lalu di atas tanah wakaf yang dulunya merupakan rumah sewa. Selain difungsikan sebagai penginapan bangunan dua lantai juga merupakan pusat oleh-oleh.

penginapan Sultan Pulau Penyengat

resepsionis dan lobi penginapan Sultan

ruang serba guna di lantai dua bagi tamu rombongan besar
Jumlah kamar tidak terlalu banyak , hanya enam saja tapi cukup luas. Bisa ditambah dua kasur lagi jika ingin share cost agar lebih hemat.
“Karena kamar tidak cukup , minggu kemarin rombongan dari Jawa Timur tidur sebagian tidur di ruang atas (ruang serba guna).”
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Penginapan Sultan : Semalam Pulau Penyengat"
Posting Komentar