
Senja pulau Penyengat – Kepulauan Riau
Rona jingga mengantar Penyengat ke ujung senja. Malam menyapa bersama lirih suara ombak.
Kumandang adzan masjid Sultan mengingatkan saatnya untuk bersimpuh sejenak di hadapanNya , mengabarkan kisahku hari ini sekaligus mensyukuri nikmatNya.
“Tuhan bolehkah saya menumpang di rumahMu, seperti malam-malam sebelumnya ketika di jalanan.”
Tuhan memang tak pernah berkata langsung tapi selalu ada pertanda sebagai jawabnya. Nampaknya saya harus mengurungkan niat untuk “ngemper” di masjid. Ini rumah Allah dan siapa saja bisa singgah dan tinggal di sini. Tapi bagaimana jika menggangu umat lain yang ingin beribadah karena terlalu banyak orang menginap di sini.
“Menginapnya tak masalah tapi jemur-jemuran bajunya itu.” Curhat Pak Samsul pengurus masjid sekaligus penginapan Sultan.
Akhirnya ide membangun penginapan diwujudkan tahun lalu di atas tanah wakaf yang dulunya merupakan rumah sewa. Selain difungsikan sebagai penginapan bangunan dua lantai juga merupakan pusat oleh-oleh.

penginapan Sultan Pulau Penyengat

resepsionis dan lobi penginapan Sultan
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Penginapan Sultan : Semalam Pulau Penyengat"
Posting Komentar